Thursday, March 4, 2021

21 Days For 21 Grams


21 Days For 21 Grams

21 hari adalah jumlah hari memasukan data ke otot supaya menjadi muscle memory. 21 grams dipercaya kalau itu adalah berat jiwa. Aku melakukan aktifitas yang sama selama 21 hari agar aku menanamkan disiplin dalam hidupku. Aku mulai berpikir untuk menjaga wadah dari jiwaku, yaitu tubuhku. Aku ingin jiwaku sehat dengan memperbaiki kebiasaanku.

Aku mulai dari sumber masalah di rumahku, menyapu dan mengepel rumah. Aku tinggal Bersama nenekku dari bayi dan om tanteku tidak berelasi dengan ibuku, mereka berpikir kelak besar nanti aku akan gagal sepertu orang tuaku. “Nyapu ngepel aja gabisa, mau jadi apa kalo sudah dewasa?”, “benalu”, “Kamu nggak pernah ngebanggain eyang.”, “Nggak pernah ada bantuannya di rumah.”, begitu kata mereka. Dulu aku bungkam. Ada masanya aku selalu menangis Ketika menyapu dan mengepel rumah, padahal mereka tidak berkata apa-apa. Disisi lain kalau aku bebenah di rumah teman atau di rumah orang tuaku sendiri aku baik-baik saja. Perlahan aku sadar kalau kata-kata mereka menjadi traumaku.

2020 mau nggak mau aku harus dirumah, demi kebaikan Bersama. Aku sempat mendekam saja dikamar, makan-mandi-tidur-on repeat. Sampai akhirnya aku tidak sengaja melihat BTS di youtube. Mereka menghiburku, aku merasa aku harus bersih kalau aku ingin pantas bertemu mereka. Aku mulai dari melipat bajuku, menyapu dan mengepel rumah sambal mendengarkan lagu mereka terus-menerus. Aku merasa aku melakukan semua itu buat mereka yang notabene tidak mengetahui keberadaanku. Disisi lain aku tetap senang melakukannya.

Tiga bulan PSBB berlalu, aku mendapatkan kerja sebagai casual barista, aku jadi kesulitan bagi waktu untuk menyapu dan mengepel rumah. Nenekku mulai mengungkit soal aku yang jarang menyapu dan mengepel rumah. Aku mulai tidak nyaman dan protes, aku membela diriku dengan hasil kerjaku sebelum aku jadi barista. Aku jujur kalau aku kesulitan membagi waktu. Nenekku bilang kalau dia tidak betah dengan statement tanteku yang tinggal dirumah kalau aku tidak ada bantuannya dirumah. Aku bilang nenekku tidak usah mendengarkan omongan siapapun. Nenekku bilang kalau dia Lelah mendengarkan keluhan anak-anaknya tentang aku. Aku bilang aku berusaha keras untuk memenuhi kemauan orang rumah. Nenekku bilang aku harus menyapu dan mengepel rumah setiap hari. Aku menyapu dan mengepel rumah dengan keras, menabrak berbagai barang dirumah dan hal itu membuat nenekku marah. Aku bilang aku sedang nyapu ngepel rumah. Nenekku bilang aku tidak sopan. Aku bilang aku capek memenuhi keinginan semua orang, aku Lelah tidak dilihat kalau sudah berusaha, aku muak kalau tidak diapresiasi. Nenekku menelpon tanteku dan menangis, bilang kalau aku tidak menghormati dan menyakiti hatinya. Saat dia tutup telpon aku bilang hal seperti itu yang bikin aku dibenci anak-anak dia. Aku pukul kepalaku dengan gagang pel dan berkali-kali bilang kalau nenekku yang bikin aku dibenci keluarga. Nenekku menangis minta ampun kepadaku. Aku diam sambil mengepel rumah sesekali aku pukul keras kepalaku dengan gagang pel. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah aku mandi dengam air hangat lalu tidur. Nenekku menawarkanku makan sambal minta maaf. Aku diam. Aku tertidur dikamar. Saat bangun tidur aku lihat tanteku diruang tv, aku bilang kalau aku tidak terima dia mengeluh kalau aku tidak ada bantuannya dirumah. Dia bilang kalau dulu aku tidak ada bantuannya. Aku bilang sekarang aku sedang berusaha berubah. Tanteku tanya kenapa baru sekarang, kenapa nggak dari dulu. Aku jawab karena aku baru ketemu BTS dan aku ingin berusaha lebih baik. Tanteku bilang kalo dulu aku bohong tentang kondisi mentalku dan traumaku. Aku mengambil jurnalku. Aku menjerit sambil membacakan suratku untuk diriku sendiri. Tanteku diam dan terduduk.

2021 aku kembali bersama BTS. Kali ini aku ditemani bertarot. Dari mempelajari tarot mendapat fakta tentang penanaman muscle memory selama 21 hari. Aku menerapkannya sejak 8 Februari 2021 tanpa mendengarkan music BTS. Kali ini aku menerapkannya dengan kesadaran, bukan obsesi. It works. Aku jadi memiliki perspective kalau yang bekerja saat menyapu dan mengepel rumah itu ototku. Aku jadi merasa kalau aku memiliki tubuhku yang bisa kuandalkan untuk mengatasi luka batinku.

21 Days For 21 Grams di 2021 adalah gerakan yang aku buat untuk mempercayai wadah dari jiwaku untuk bekerja sama dengan aku. Aku harus merawat wadah jiwaku ini, karena wadah ini yang membantu aku mengatasi lukaku.

 

Saturday, February 13, 2016

Masih Sayang Saja

Kamu yang paling cantik yang pernah bersamaku.
Kamulah gadis pertamaku.
Kamu menerbangkanku tinggi dilangit yang tinggu,
membawaku berenang kelautan yang dalam,
menembus samudra menuju muka awan yang putih,
membasuh pipiku dengan kapas - kapas lembut yang manis,
mengajakku berlari diantara warna warni becek pasar malam alun alun,
kamu gadisku yang tersenyum manis.
kamu gadisku.
kamu.
gadisku.
31 Mei 2016
untuk pertama kalinya, sebagai seorang gadis, anak manusia ini merasakan betapa lembut bibir gadis lain.
well
surely that women are the most beautiful creature God's made.
namun ternyata gadis ini pernah merasakan yang lebih lembut dan halus dibandingkan dengan seorang gadis.
jadi sadar benar. dimana kelembutan, kebahagiaan, dan kasih bukan datang dari apalah yang berupa. namun dari yang tak nampak dan nyata dirasa.
sukesi 13 Februari 2016

Friday, November 6, 2015

Senandung Sayang Diatas Delapan Belas

efek kupu - kupu  2 Desember 2015

Mimpi akan semesta yang luas, namun penuh oksigen diudara. Begitu banyak bintang bersinar diantara kita berdua. Melayang aku seorang manusia kesana kemari. Namun dayaku akan mengenali tata surya hanya sekecil semut yang lupa jalan pulang. Kamu ada disitu, sama - sama lupa. Itulah anugrah terindah kita. Bukan menjadi matahariku, sayang. Kamulah manusia yang menemani aku kala lupa siang dan malam. Ya, lupalah anugrah terindah kita. kala ingat senandung gayan mesra, "Percayalah hati lebih dari ini pernah kita lalui. Takan lagi kita mesti jauh melangkah, nikmatilah lara, untuk sementara..."

Dalam ruang hampa, ada semesta yang harus kita nikmati kala mengambang dalam kejujuran rasa. 

Maaf sayang, tak sengaja kau kubuat luka. Namun Si Pencipta yangkan beri balut. Jika luka itu membekas, biarkanlah, itulah kenangan yang terbuai tanpa rayuan mesra cumbuan.
Mungkinkah ini yang disebut tak siap kala mengerti luasnya cinta? Kala si ruang dan waktu tak dapat menangkapnya, membuat gusar didada. Kala rupa menjadi hidangan utama dalam kehidupan.

Sayang oh sayang,

Kan kupeluk kau dalam mimpi, dan kucium kau dalam sukma. Biarkan sukma kita bercinta namun raga kita saling mengasihi.

Bukan maksut-Nya menyakiti kita, kala Beliau menaruh rasa yang begitu megah dalam sukma.

Ketahuilah sayang,
kamulah karya terindah yang pernah kuhidupi, walau mungkin kutahu kamu bisu akan verbal dan buta akan visual. Namun dari diammu, tatapanmu, rasa tau tentang cinta yang begitu sempit sekaligus luas itu, lambat laun menyelimutiku akan logika yang berujung.

Kecemburuan akan yang Maha itu muncul, sekali kanberkata, "Tuhan! Mengapa kau berikan karyamu yang paling indah itu dalam satu ruang dan waktu bersama aku, karyamu yang biasa ini? Kala karya terbaikmu itu dimataku mengikat aku namun terasa terbebas dalam waktu yang bersamaan, hingga kini aku tak merasa memiliki ruang dan waktu.
Begitu Bangsatnya Engkau! Dapat mencipta karya yang begitu indah dan fungsional didepan mata, kala kusadar tak dapat kumuliki, karena apalaha yang kupunya?"

Pertemuan pertama dalam rotasi itu memberikan cahya surya yang begitu terang hingga tercapainya purnama merah.

Kemegahan rasa dalam sukma itu yang telah menampar sekaligus membelai dan membuka mata, itulah yang takan pernah hilang.





Biarkan Sukma kita bercinta, namun raga saling mengasihi.
Biarkan aku menghargai diriku, baru kan kubiarkan kamu masuk.
Kan ku biarkan kamu menghargai dirimu sendiri secara utuh, agar kamu tau rasaku menghargai diriku.
Bila kutanya nanti, jawablah tentang kini.
Sulit bagiku untuk obyektif, karena darah kini dalam khayal.
Kala ekspektasi lebih besar dari realita semata, maka darah membeku biru, kaku.
Kamu ingatkan aku untuk tetap sadar.
Kamu buat aku tidur.
Kamu datang dalam mimpi.
Biarkan kunikmati malam bersama keadaan.


Tanah Lapang Langit Bulan 12 November 2015

Tanah berdebu yang kemarin kita duduki, untuk piknik kecil - kecilan yang aku dan kamu ciptakan, kini telah lembab diperawani air mata langit. Aku tahu, kamu ada disini bersamaku, dan nanti ketika aku tidut, aku bertemu dengan kamu. Sebab ingin kuceritakan tentang perjalananku hendak kemari, ke tanah lapang kita berdua ini. Awalnya yang kubayangkan malam inikanku renungkan dzikir daripada awan. Namun, mereka para Awan, membuka semesta agar bintang mampu kusapa. Mereka membuka barisa berbanjar seperti kue lapis rasa blueberry vanilla dilangit. Dan para bintang, mereka semua tertawa di angkasa, melihatku, si gadis yang sedang jatuh cinta, datang untuk bernostalgia dengan sukma rajanya yang dulu. Bersyukur rasanya mereka terhibur dengan keluguan kisah roman ini. 

Hingga pada akhirnya hari ini, para Ibu Alam menyiapkan tempat nostalgia yang layak bagi dayang yang satu ini. Wangi tanah basah yang pekat dan pikat di langit - langit hidung, debu - debu yang kini bersahabat, bintang yang benderang, ya, mereka semua menghibur aku yang seperti kembali perawan.

Rinduku kini terasa biasa, yang artinya baik. Aku sadar kamu disini bersamaku, menemani aku sampai nanti aku tidur.
Kisah sayang diatas delapan belas ini benar menghipnotis kesadaranku, membuka setengah sadarku, mengendalikan si bawah sadarku. Rasanya menjadi baik, ketika semua pas pada porsinya.

Entah siapa yang memberi tahu awan untuk membuka malam atau burung burung berkicau pada pagi buta, tapu yang kutahu Beliau mengizinkan itu terjadi.
Disini, ketenangan yang sama masih kurasakan. Rasa menjadi manusia yang kucari dari tempat ini masih kudapatkan. Seperti rasa hari ini, yakni jatuh cinta. Lagi, lagi, dan lagi aku jatuh cinta.
Bukan hanya dengan kamu, namun karena kamu kini aku mudah jatuh cinta dengan segala yang aku dapat, dengan segala yang aku rasakan.
Kamulah pemicunya.

Terima kasih ya, terima kasih.

Kamu membuatku menjadi manusia lagi.
Terima kasih Bapa, Kau mengingatkan aku benar kalau aku manusia dengan mempertemukan aku dengan orang - orang yang mengajarkan aku arti bercinta.

Sukesi


Mungkin Mawar Berduri 5 November 2015


Tuan, hampir sebulan yang lalu Tuan menemukan aku menjadi manusia tanpa detak hati. Manusia yang mati dalam hidup, tenggelam oleh rasa yang semu. Meski sudah kutemukan perlahan detak itu, agar aku menjadi 'manusia'.

Namun Tuan, pertemuan denganmu adalah pertemuan dimana aku merasakan betul menjadi manusia berdetak. Lebih dari berdetak, berdegup buas bagai suara bass klub malam.

Kesadaranku akan menjadi manusia dihadapan Tuan, kini telah genap. Namun terkadang kesadaran itu menjadi semu, kala Tuan berbicara padaku tidak seperti berbincang dengan "manusia". Tuan melihatku sangat indah, Tuan banyak memuji aku, merayuku, seperti tuan berbicara dengan sebatang bunga mawar berduri.

Dengan rayuan Tuan, duri itu sama seperti perlahan hilang, membuat aku sebagai manusia setengah mawar ini takut, karena menjadi mudah untuk dipetik lalu layu dan lalu mati.

Setiap kelopak ini berteriak kepadamu,"Tolong Tuan! Rawatlah aku layaknya seseorang agar kita saling mencinta. Bukalah matamu Tuan! Mawar berduri yang Tuan lihat hanyalah kabut asmara semu, bila kau cabut aku, kemudian menghirup wangiku, lalu kau taruh aku dalam vas memori maka aku akan mati sampai disitu."

Jerit demi jerit kelopak kasih ini, semoga tidak hanya menjadi kecantikan mawar penghalang, agar rasa yang aku dan kamu hindari itu tidak masuk dengan cepat, tapi jadikan itu sebagai eternitas kenang yang dapat kau lampinkan dibadanmu agar pesan itu tetap bersamamu.

Aku hanyalah mawar berduri yang rapuh dihadapanmu, Tuan. Semua ini karena kau detakan kembali rasa dihati, dan apa yang mati kini telah bangkit.

Sungguh tolong sungguh,
Bantu aku merawat detak demi detak ini, agar ini tidak mati lagi, karena Tuan mengingatkan aku akan kehidupan sukma. Jangan lupa beri aku air dan pupuk, biarkan aku tetap disitu, dihalaman belakang rumahmu, memberi warna pada kebunmu.
Buatlah aku hidup seumur hidupku.
Kan ku buat kau bersemi - semi sepanjang hidupku. Biarkanlah aku memberikan eternitas kecil yang akan kita jalin sebagai 'Manusia'. 
Sebagai mawar, akan kuberikan kamu selamanya. Sebagai tanda terima kasihku mengingatkan rasa Beliau pada aku.
Kita milik Beliau, aku juga milikmu, kamu bukan milik siapapunm kecuali Beliau.

Sukesi


Bersetubuh Dengan Matahari 4 November 2015

Iya! Aku ingin bersetubuh! Bersetubuh dengan Matahari! Merasakan setiap hangatnya dibibir - bibir kulit. Membuat pori - pori mungil ini basah, bergesek bersama rongga daging diantara bilah kulit yang halus.

Kala tak mampu kan kupalingkan wajahku dari paparanmu, Matahari, walau hanya sentuhan kecil yang menjari pada setiap sudut tubuhku, sudut terkecilku, sudut termerahku, atau mungkin bila kamu mampu, jarilah pada sudutku yang paling terbalut.

Aku yakin kamu takan mampu.

Belum sampai aku bilang, "Hey Matahari! Aku ingin kamu! Kuingin kamu membelah sebilah kulit ini dengan cahaya yang kamu punya, yang tak lebih dari sebatang keredupan hari, untuk lebur dalam rongga - rongga jalan kehidupan, menjadikan aku bercahaya diremang malam."

Namun oh namun Matahari
Akupun tak sanggup berkata demikian. Aku hanya mampu menulis apa yang menjadi ironi birahi.
Dusta akal pikir inikanku hapus dengan kasihku padamu.
Jasamu akan membuat setiap hariku terang, mencipta sore mendayu layu, kamupun menimang - nimang aku. Takan kupikir, takan kurasa bila kau merayu sayu.

Maafkan aku Matahari.

Sukesi




Mandi 31 Oktober 2015

Aku ingin mandi bersama kamu. Kamu yang dulu, sekarang, dan besok mengasihi aku. Aku ingin kamu membersihkan punggungku, menghiraukan auratku, menjadi satu denganku tanpa berbirahi bersamaku.

Aku mandi bersamamu, saling membersihkan yang tersulit dijangkau secara pribadi. Disitu kamu lupa kita telanjang, dan akupun juga. Bermain airlah aku dan kamu, tertawa terbahak - bahak tanpa bercumbu. Aku dan kamu, kita, bercumbu lewat sukma.

Kita melebur menjadi satu, bercinta, dan merasakan sukma kita menggeluti paham jiwa masing - masing. Namun raga hanya tertawa bebas merasakan dingin air dibawah rembulan. Raga kita memang tak berenang, sukma kita menampakan wujud orisinilnya.

Kamu lihat buah dadaku, leherku, pundakku, punggungku, wajahku, mataku, tatapanku, sukmaku, kamu lihat aku. Kamu lihat aku bahagia, kamu lihat aku suka, dan aku lihat kamu rasakan yang aku rasakan.

Aku ingin mandi bersamamu. Aku dan kamu lupa kalau kita telanjang, kita bersendagurau seperti Adam dan Hawa semasa sebelum menelan buah pengetahuan. Maka disitu hadir kita dan Beliau. Kita saling jujur, saling tulus, kita mejadi kita.

Aku mandi sama kamu.


Sukesi

Friday, October 9, 2015

Cerita Suka Di Beranda Sukesi

Bjong Ngopi Bjong Nologaten Jogja
Sukesi 21 November 2015

Aku cuma rindu tempat ini. Bjong lagi, bjong lagi. Terlalu banyak "rupa" yang memanjakan.
"Jangan terjebak pada rupa", rupa memang begitu memanjakan. Bahkan pukul segini saja canda tawa masih berkicau. Dua lewat tiga puluh menit dini hari. Apa ini yang disebut cinta yang tidak mengenal ruang dan waktu? Memang Kaekesi  belum tahu, lebih tepatnya belum paham akan kemurnian cinta. Cintaku akan tempat ini membuatku menyisihkan waktu lebih untuk bersama. Tadi memang teman - temanku ada disini. Ramai, sangat ramai. Semua para kakak itu yang mengajarkan aku banyak hal. Tapi kini mereka sudah pulang, menidurkan raga menimang - nimang jiwa.

Sekarang aku hanya bersama meja penuh gelas berisi teh dan kopi yang tertanggalkan, serta playlist aneh dari tempat ini yang cukup menghibur batin.
Sekarang aku hanya bersama kamu, Bjong.

Masih ada dua saudara lainnya, dua matahari yang manusia. Baru saja disini, di Bjong, dapatku pemahaman akan korelasi rasa dengan bisikan yang sejak aku mejadi kehidupanpun dan kini sudah cukup matang. Terima kasih ya tempat ini..

Sangat bisa tadiku tak mengikuti nafsuku untuk pergi kesini. namun kubiarkan rasaku membawaku ke ruang rindu.
Ngeteh Bjong Ngopi Bjong Nologaten Jogja
Sukesi 7 Oktober 2015

Ditemani segelas teh, Sukesi melepas rindu lewat tinta hangat, teh dingin, musik, serta cahaya lampu LED benderang, bersama tumpukan buku bahasa Jerman yang membosankan. Namun rasa itu, yang tak terlihat namun ada, kini telah bercumbu mesra dengan semen - semen dan aroma kopi yang menyanggah bilah bambu ini.
Suka, suka, suka! Warung ini, Ngopi Bjong ini, berteman dengan sukma. Meski tidak berkawan, rasanya puas. Melihat kursimu kini sudah ada yang baru, lega rasanya. Mendengar canda tawa dari pelangganmu, sangat puas sungguh. Padahal aku tak berkuasa.
Suasana diatara manusia ini mengingatkan Sukesi akan masa sekolah dasarnya, dimana semua hanya lelucon, gelak tawa, serta canda saja yang begitu sederhana namun saat ini dibilang 'tidak sesederhana itu'.
Si Anginpun berlarian kesana kemari tak ada yang hiraukan dinginnya, karena begitu hangat suasana yang terbangun. Disitu kawinlah persatuan energi dari partikel - partikel serta spektrum lampu kuning memecah rasa menjadi berjuta. Hingga pada akhirnya hanya bisa lumpuh diatas tempat duduk tanpa bersandar, menciptakan interaksi baik raga maupun jiwa.
Masa lalu, kini, dan masa yang akan datang semua bercinta dan lahirlah Aku, disitu.



BIBIR dan ARTI SEBUAH KECUPAN
“Antara Doa, Hasrat, dan Perpisahan”
 NN 13 April 2015

Bibir bisa dikatakan sebagai suatu bagian yang memiliki fungsi di luar fungsi komponen utama. Bibir tak lain adalah tepi, adalah pinggir, adalah batas, atau bagian yang paling terluar dari suatu unit tertentu. Suatu bagian terkecil atau terluar yang mampu untuk mandiri.
Contoh: bibir manusia, bibir pantai, bibir desa, bibir mata, dst.
Bibir pada manusia menjadi kesatuan dari mulut, bibir pada pantai menjadi kesatuan dari laut, bibir pada desa menjadi kesatuan dari kumpulan-rumah penduduk, bibir pada mata menjadi kesatuan dari jarak pandang manusia, dst.
Banyak orang telah merasa dekat, dan memahami kata “bibir” terlebih kata bibir pada manusia. Padahal bila kita mau untuk kembali mencermati, coba membuka dan merunutkan lapisan dimensi yang terkandung di dalamnya (baca: bibir). Maka pada lapisan pertama, kita akan menemukan bibir sebagai “kata”. Pada lapisan kedua kita akan menemukan bibir sebagai “nama”. Pada lapisan ketiga kita akan menemukan bibir sebagai “media”. Pada lapisan keempat kita akan menemukan bibir sebagai “tanda”. Dan beberapa lapisan lain setelahnya.
Akantetapi kali ini saya akan coba mengangkat “bibir” (pada manusia), pada lapisan dimensi ketiga (bibir sebagai media) dan keempat (bibir sebagai tanda).
            Pada lapisan dimensi ketiga bibir sebagai media. Melalui bibir, seorang manusia (individu) mampu mengekspresikan (mengungkapkan maksud, gagasan, menggambarkan perasaan) suatu hal tertentu yang tengah dialaminya, tanpa perlu memaparkannya secara langsung. Bahwa hanya dengan mengembangkan bibir (senyum), seorang bisa mengatakan bahwa “saya sedang merasa bahagia.” Begitu juga sebaliknya dengan melihat pergerakkan yang terjadi pada bibir seseorang, kita bisa mengenali maksud atau keadaan dari seorang tersebut; sebab “senyum” tidak hanya memiliki satu arti.
Bahwa dengan membubuhi warna (lipstik) pada bibir, seorang perempuan bisa terlihat lebih cantik, seksi, dan seterusnya. Melalui bibir, kita mampu menangkap banyak hal, mulai dari maksud, gagasan, bahkan sampai pada perasaan.

            Pada lapisan dimensi keempat bibir sebagai tanda. Bibir sebagai alamat atau sebagai wujud pernyataan akan sesuatu hal. Adapun sebuah ciuman bibir atau kecupan, tentu memiliki beberapa deret pengertian yang berbeda. Kali ini saya mencoba untuk menggunakan sudut pandang usia sebagai pembagi, dan mengkategorikan arti sebuah kecupan sebagai Doa, sebagai Hasrat, dan Perpisahan.


Cara Bagaimana Sukesi 9 Oktober 2015

Aku suka cara, cara bicara, cara bercerita, cara bernyanyi, cara memperlihatkan, cara bersendawa, cara, cara, cara
Aku suka cara bagaimana, aku suka cara yang bagaimana
  • Cara bagaimana membuat apa(pun) : tutorial 
  • Cara bagaimana melihat apa(pun) : perspektif 
  • Cara bagaimana mencium apa(pun) : hirup, cumbuan
Cara yang menjadi pola, lalu menjadi kebiasaan, dan dari kebiasaan itu dilakukan bersama para subjek maka akan menjadi kebudayaan.  Kesinambungan antar cara yang menjadi pola, kebiasaan, kebudayaan itu menjadi suatu karya murni yang tercipta karena kebutuhan. Baik itu cara yang diluar titik kenyamanan bahkan mungkin ganjil dan banal namun tengiang - iang dalam pikir, itulah yang dinamakan suksesnya pesan sublim.

Definisi 'cara'
Indonesian to Indonesian
noun
1. 1 jalan (aturan, sistem) melakukan (berbuat dsb) sesuatu: begitulah -- orang membuat tapai; bagaimana -- menulis huruf ini; 2 gaya; ragam (spt bentuk, corak): ia mempunyai baju -- Cina; ia pandai menari -- Sunda, Jawa, dan Bali; 3 adat kebiasaan; perbuatan (kelakuan) yg sudah menjadi kebiasaan: jika berada di negeri orang, jangan membawa -- mu sendiri; perkawinan -- Barat tidak sama dng -- kita4 bahasa; logat (dialek): ia menjawab -- Cina; -- Jakarta disebut “tampek”, -- Jawa “gabak”, dan -- Melayu “campak”; 5 jalan yg harus ditempuh: ia sedang memikirkan satu -- untuk membebaskan dirinya dr cengkeraman lawannya; 6 usaha; ikhtiar: hal itu adalah suatu -- untuk memupuk rasa nasionalisme; -- artikulasi Ling cara aliran udara disempitkan atau dilepaskan dl saluran suara, dipakai untuk mengklasifikasikan bunyi bahasa atas plosif (hambat) nasal, frikatif, afrikat, lateral, getar, sentuh, semivokal, dan vokal; -- penyajian usaha menyampaikan berita agar menarik;
se·ca·ra p 1 sebagai; selaku: hendaklah kamu bertindak ~ laki-laki; 2 menurut (tt adat, kebiasaan, dsb):perkawinan akan dilangsungkan ~ adat keraton; 3 dng cara; dng jalan: perselisihan itu akan diselesaikan ~ damai; ia diperlakukan ~ tidak adil; 4 dengan: hal itu diuraikan ~ ringkas; serangan itu dilakukan ~ besar-besaran
source: kbbi3
http://artikata.com/arti-323139-cara.html

Contohnya,
Cara meletakan gelas pada meja makan, dengan satu gerakan tangan, perbedaan sudut setiap perdetiknya dari titik ketinggian yang berbeda agar gesekan antar kaki gelas dan wajah meja tidak saling membentur dan menimbulkan distruksi suara maupun objeknya itu sendiri.
Cara menghisap kaki sigaret, dimana kaki sigaret bergesekan dengan bibir yang lembab lalu dari situ paru - paru yang mengambil alih untuk mengembangkan setiap bronkeolus untuk mengundang udara, nikotin, serta sari tembakau masuk bersamaan yang akhirnya memberikan rasa manis pada ujung bibir dan asap mantra sampai ke serebrum.

Tulis atau gambarlah definisi cara menurut kalian pada komentar bila memiliki persamaan ataupun kontra, terima kasih telah membaca!



Wednesday, September 30, 2015

Surat Untuk Si Garet

Tentang Doi,

Pada awalnya, doi bukan dan tidak masuk dalam pilihan, opsi - opsi, alternatif pengalih kesepian, dan pikiran beratku. Namun, pada akhirnya, ya, si Doi yang kupilih.

Aku memilih si Doi untuk berkenalan dengannya, lewat perantara seorang teman, yang kutitipi pesan untuk mengenalkannya padaku. Beberapa waktu setelah ibu, aku, dan Doi jadi makin akrab. Aku mulai tidak malu - malu untuk bertemu dengan dia, ketidak malu - maluan itu bahkan menjadi sebuah keberanian untuk kuungkapkan hubungan ini pada mama, secara sengaja yang terkesan tidak sengaja.

Namun, oh namun.

Bagiku yang beranggapan bahwa hidup ini dipenuhi paradoks dan kontraksi  itu jugalah yang terjadi padaku dalam hubungan ini.

Untuk diketahui:
Aku bernyanyi dengan suara tinggi dan jernih adalah asetku, sementara hubunganku dengan si Doi dapat menghancurkan hal yang aku miliki.

Paradoks, oh paradoks.

Setiap menyampaikan paradoks derita tak terungkap, tersimpan rapi namun terkoak, dan terasa sakitnya nanti, dan dalam derita lucunya dapat kutemukan kebahagiaan jika kau berhasil menemukan celahnya.

Mungkin jika dirangkum akan kita temukan kata kunci untuk melihat hal ini, yaitu perspektivitas. Waktu kini hubunganku dengan si Doi agak merenggang, karena sudah jarang dan berkurang frekuensi pertemuan kami, dan menjalin walau kata orang hubungan bersamanya dapat memberi dampak kurang menyenangkan untuk diriku, tapi aku tetap menghargai momen yang aku l
ewati dan aku ciptakan bersama si Doi.

Dengan Doi aku menghadapi kesepianku,
Dengan Doi aku berkutat dengan pikiranku sendiri,
Doi yang menemani dialog yang terjadi dalam pikiran dan hatiku, dialog antara diriku dan diriku.

Dan tulisan yang tengah kau baca inipun aku lahirkan dengan susunan DNA yang dihasilkan oleh buah - buah pikiranku, air pena snowman, kertas putih, dan kepulan asap hasil sinergi antara bibirku, nafasku, dan si Doi.

Yogyakarta, 16 Agustus 2015
Bjong

SEA

Jangan lupa mampir ke Blog milik penulis :


.......................................................



Ngopi Bjong Yogyakarta, 11 Agustus 2015

Yang tercinta Si Garet,

Temanku yang selalu dihakimi dan selalu ikhlas menerimanya.



Hai Garet, kamu temanku sejak tiga tahun silam, saat itu aku menemukanmu di ujung rak toilet rumahku. Aku menangis sendirian di ujung ruang mandi itu, lalu kulampiaskan segalanya padamu, padahal kamu belum mengenal aku hari itu.

Aku minta maaf Garet. Aku pikir semenjak hari itu aku jadi sering melacurimu dimana - mana. Aku tau kamu mendengar seluruh jeritan syahduku. Harus kuakui, kamu benar teman yang baik, kamu satu satunya teman yang menerima penyiksaan batin, dengan menyiksa tubuhmu berulang ulang. Seribu kali kamu mati, sejuta kali kamu kuhidupkan kembali.



Garet, berkat jasamu pula aku lebih mudah bersosial pada sesama pelangganmu. Kami menjadi akrab satu sama lain, saling menggilir dirimu, dan membakarmu bersama - sama. Ya, itulah takdirmu Ret. Maaf jika ini jahat, tapi kamu tidak berguna bila tidak menjadi pelampiasan batin.


Garet, tragedimu menjadi pelacur oral memang tidak ada jalan keluarnya. Tapi pikirkanlah keluargamu, bapak ibu tani serta anak - anaknya yang merawat kamu saat kamu masih tinggal di kebun, mereka makan apa bila kamu tidak bekerja. Mereka menumbuhkanmu dengan segenap rasa dan harapan akan lakunya dirimu dihari esok sehingga anak kandungnya dapat sekolah tinggi. Biarpun banyak orang mencaci maki dengan sejuta fakta yang ada, jangan biarkan mereka membuatmu musnah begitu saja.

Garet, kamu pasti lebih mengerti ini daripadaku. Kalau orang diluar sana, mereka manusia yang paling kedinginan, paling lemah hatinya, merasa hidupnya sudah terlalu kacau untuk dilanjutkan, mereka - mereka yang tersesat aku yakin pasti kebanyakan dari mereka adalah pelangganmu. Kamu mungkin tidak membantu secara verbal, finansial, atau apapun, namun kamu telah memberikan sedikit rasa manis pada ujung bibir mereka, dari semua pahit yang ada di dalam hidup mereka.

Garet, kamu bukan teman yang jahat. Kamu bahkan memeluk erat pelangganmu sampai terasa keseluruh organ-organ tubuh mereka dan kamu memeluk hangat hingga mereka ikut mati bersamamu.

Ditemani segelas kopi aku menulis surat ini padamu yang sedang menemaniku pula. Terima kasih banyak Garet, begitu intim hubungan yang kita miliki, kita bernafas salam satu hembusan yang sama, teratur dan lamban. Aku merasa kamu benar teman dekatku, Ret. Jangan pernah pikirkan apa yang dikatakan orang, tetap jadilah dirimu sendiri, aku yakin kamu dan keluarga yang membesarkanmu tidak ada maksut untuk berkehendak jahat. Pikirkanlah, memang apa yang sempurna?



Yang mencinta,

Sukesi