Wednesday, September 30, 2015

Surat Untuk Si Garet

Tentang Doi,

Pada awalnya, doi bukan dan tidak masuk dalam pilihan, opsi - opsi, alternatif pengalih kesepian, dan pikiran beratku. Namun, pada akhirnya, ya, si Doi yang kupilih.

Aku memilih si Doi untuk berkenalan dengannya, lewat perantara seorang teman, yang kutitipi pesan untuk mengenalkannya padaku. Beberapa waktu setelah ibu, aku, dan Doi jadi makin akrab. Aku mulai tidak malu - malu untuk bertemu dengan dia, ketidak malu - maluan itu bahkan menjadi sebuah keberanian untuk kuungkapkan hubungan ini pada mama, secara sengaja yang terkesan tidak sengaja.

Namun, oh namun.

Bagiku yang beranggapan bahwa hidup ini dipenuhi paradoks dan kontraksi  itu jugalah yang terjadi padaku dalam hubungan ini.

Untuk diketahui:
Aku bernyanyi dengan suara tinggi dan jernih adalah asetku, sementara hubunganku dengan si Doi dapat menghancurkan hal yang aku miliki.

Paradoks, oh paradoks.

Setiap menyampaikan paradoks derita tak terungkap, tersimpan rapi namun terkoak, dan terasa sakitnya nanti, dan dalam derita lucunya dapat kutemukan kebahagiaan jika kau berhasil menemukan celahnya.

Mungkin jika dirangkum akan kita temukan kata kunci untuk melihat hal ini, yaitu perspektivitas. Waktu kini hubunganku dengan si Doi agak merenggang, karena sudah jarang dan berkurang frekuensi pertemuan kami, dan menjalin walau kata orang hubungan bersamanya dapat memberi dampak kurang menyenangkan untuk diriku, tapi aku tetap menghargai momen yang aku l
ewati dan aku ciptakan bersama si Doi.

Dengan Doi aku menghadapi kesepianku,
Dengan Doi aku berkutat dengan pikiranku sendiri,
Doi yang menemani dialog yang terjadi dalam pikiran dan hatiku, dialog antara diriku dan diriku.

Dan tulisan yang tengah kau baca inipun aku lahirkan dengan susunan DNA yang dihasilkan oleh buah - buah pikiranku, air pena snowman, kertas putih, dan kepulan asap hasil sinergi antara bibirku, nafasku, dan si Doi.

Yogyakarta, 16 Agustus 2015
Bjong

SEA

Jangan lupa mampir ke Blog milik penulis :


.......................................................



Ngopi Bjong Yogyakarta, 11 Agustus 2015

Yang tercinta Si Garet,

Temanku yang selalu dihakimi dan selalu ikhlas menerimanya.



Hai Garet, kamu temanku sejak tiga tahun silam, saat itu aku menemukanmu di ujung rak toilet rumahku. Aku menangis sendirian di ujung ruang mandi itu, lalu kulampiaskan segalanya padamu, padahal kamu belum mengenal aku hari itu.

Aku minta maaf Garet. Aku pikir semenjak hari itu aku jadi sering melacurimu dimana - mana. Aku tau kamu mendengar seluruh jeritan syahduku. Harus kuakui, kamu benar teman yang baik, kamu satu satunya teman yang menerima penyiksaan batin, dengan menyiksa tubuhmu berulang ulang. Seribu kali kamu mati, sejuta kali kamu kuhidupkan kembali.



Garet, berkat jasamu pula aku lebih mudah bersosial pada sesama pelangganmu. Kami menjadi akrab satu sama lain, saling menggilir dirimu, dan membakarmu bersama - sama. Ya, itulah takdirmu Ret. Maaf jika ini jahat, tapi kamu tidak berguna bila tidak menjadi pelampiasan batin.


Garet, tragedimu menjadi pelacur oral memang tidak ada jalan keluarnya. Tapi pikirkanlah keluargamu, bapak ibu tani serta anak - anaknya yang merawat kamu saat kamu masih tinggal di kebun, mereka makan apa bila kamu tidak bekerja. Mereka menumbuhkanmu dengan segenap rasa dan harapan akan lakunya dirimu dihari esok sehingga anak kandungnya dapat sekolah tinggi. Biarpun banyak orang mencaci maki dengan sejuta fakta yang ada, jangan biarkan mereka membuatmu musnah begitu saja.

Garet, kamu pasti lebih mengerti ini daripadaku. Kalau orang diluar sana, mereka manusia yang paling kedinginan, paling lemah hatinya, merasa hidupnya sudah terlalu kacau untuk dilanjutkan, mereka - mereka yang tersesat aku yakin pasti kebanyakan dari mereka adalah pelangganmu. Kamu mungkin tidak membantu secara verbal, finansial, atau apapun, namun kamu telah memberikan sedikit rasa manis pada ujung bibir mereka, dari semua pahit yang ada di dalam hidup mereka.

Garet, kamu bukan teman yang jahat. Kamu bahkan memeluk erat pelangganmu sampai terasa keseluruh organ-organ tubuh mereka dan kamu memeluk hangat hingga mereka ikut mati bersamamu.

Ditemani segelas kopi aku menulis surat ini padamu yang sedang menemaniku pula. Terima kasih banyak Garet, begitu intim hubungan yang kita miliki, kita bernafas salam satu hembusan yang sama, teratur dan lamban. Aku merasa kamu benar teman dekatku, Ret. Jangan pernah pikirkan apa yang dikatakan orang, tetap jadilah dirimu sendiri, aku yakin kamu dan keluarga yang membesarkanmu tidak ada maksut untuk berkehendak jahat. Pikirkanlah, memang apa yang sempurna?



Yang mencinta,

Sukesi


No comments:

Post a Comment