efek kupu - kupu 2 Desember 2015
Mimpi akan semesta yang luas, namun penuh oksigen diudara. Begitu banyak bintang bersinar diantara kita berdua. Melayang aku seorang manusia kesana kemari. Namun dayaku akan mengenali tata surya hanya sekecil semut yang lupa jalan pulang. Kamu ada disitu, sama - sama lupa. Itulah anugrah terindah kita. Bukan menjadi matahariku, sayang. Kamulah manusia yang menemani aku kala lupa siang dan malam. Ya, lupalah anugrah terindah kita. kala ingat senandung gayan mesra, "Percayalah hati lebih dari ini pernah kita lalui. Takan lagi kita mesti jauh melangkah, nikmatilah lara, untuk sementara..."
Dalam ruang hampa, ada semesta yang harus kita nikmati kala mengambang dalam kejujuran rasa.
Maaf sayang, tak sengaja kau kubuat luka. Namun Si Pencipta yangkan beri balut. Jika luka itu membekas, biarkanlah, itulah kenangan yang terbuai tanpa rayuan mesra cumbuan.
Mungkinkah ini yang disebut tak siap kala mengerti luasnya cinta? Kala si ruang dan waktu tak dapat menangkapnya, membuat gusar didada. Kala rupa menjadi hidangan utama dalam kehidupan.
Sayang oh sayang,
Kan kupeluk kau dalam mimpi, dan kucium kau dalam sukma. Biarkan sukma kita bercinta namun raga kita saling mengasihi.
Bukan maksut-Nya menyakiti kita, kala Beliau menaruh rasa yang begitu megah dalam sukma.
Ketahuilah sayang,
kamulah karya terindah yang pernah kuhidupi,
walau mungkin kutahu kamu bisu akan verbal dan buta akan visual. Namun dari
diammu, tatapanmu, rasa tau tentang cinta yang begitu sempit sekaligus luas
itu, lambat laun menyelimutiku akan logika yang berujung.
Kecemburuan akan yang Maha itu muncul, sekali
kanberkata, "Tuhan! Mengapa kau berikan karyamu yang paling indah itu
dalam satu ruang dan waktu bersama aku, karyamu yang biasa ini? Kala karya
terbaikmu itu dimataku mengikat aku namun terasa terbebas dalam waktu yang
bersamaan, hingga kini aku tak merasa memiliki ruang dan waktu.
Begitu Bangsatnya Engkau! Dapat mencipta karya
yang begitu indah dan fungsional didepan mata, kala kusadar tak dapat kumuliki,
karena apalaha yang kupunya?"
Pertemuan pertama dalam rotasi itu memberikan
cahya surya yang begitu terang hingga tercapainya purnama merah.
Kemegahan rasa dalam sukma itu yang telah
menampar sekaligus membelai dan membuka mata, itulah yang takan pernah hilang.
Biarkan Sukma kita bercinta, namun raga saling mengasihi.
Biarkan aku menghargai diriku, baru kan kubiarkan kamu masuk.
Kan ku biarkan kamu menghargai dirimu sendiri secara utuh, agar kamu tau rasaku menghargai diriku.
Bila kutanya nanti, jawablah tentang kini.
Sulit bagiku untuk obyektif, karena darah kini dalam khayal.
Kala ekspektasi lebih besar dari realita semata, maka darah membeku biru, kaku.
Kamu ingatkan aku untuk tetap sadar.
Kamu buat aku tidur.
Kamu datang dalam mimpi.
Biarkan kunikmati malam bersama keadaan.
Tanah Lapang Langit Bulan 12 November 2015
Tanah berdebu yang kemarin kita duduki, untuk piknik kecil - kecilan yang aku dan kamu ciptakan, kini telah lembab diperawani air mata langit. Aku tahu, kamu ada disini bersamaku, dan nanti ketika aku tidut, aku bertemu dengan kamu. Sebab ingin kuceritakan tentang perjalananku hendak kemari, ke tanah lapang kita berdua ini. Awalnya yang kubayangkan malam inikanku renungkan dzikir daripada awan. Namun, mereka para Awan, membuka semesta agar bintang mampu kusapa. Mereka membuka barisa berbanjar seperti kue lapis rasa blueberry vanilla dilangit. Dan para bintang, mereka semua tertawa di angkasa, melihatku, si gadis yang sedang jatuh cinta, datang untuk bernostalgia dengan sukma rajanya yang dulu. Bersyukur rasanya mereka terhibur dengan keluguan kisah roman ini.
Hingga pada akhirnya hari ini, para Ibu Alam menyiapkan tempat nostalgia yang layak bagi dayang yang satu ini. Wangi tanah basah yang pekat dan pikat di langit - langit hidung, debu - debu yang kini bersahabat, bintang yang benderang, ya, mereka semua menghibur aku yang seperti kembali perawan.
Rinduku kini terasa biasa, yang artinya baik. Aku sadar kamu disini bersamaku, menemani aku sampai nanti aku tidur.
Kisah sayang diatas delapan belas ini benar menghipnotis kesadaranku, membuka setengah sadarku, mengendalikan si bawah sadarku. Rasanya menjadi baik, ketika semua pas pada porsinya.
Entah siapa yang memberi tahu awan untuk membuka malam atau burung burung berkicau pada pagi buta, tapu yang kutahu Beliau mengizinkan itu terjadi.
Disini, ketenangan yang sama masih kurasakan. Rasa menjadi manusia yang kucari dari tempat ini masih kudapatkan. Seperti rasa hari ini, yakni jatuh cinta. Lagi, lagi, dan lagi aku jatuh cinta.
Bukan hanya dengan kamu, namun karena kamu kini aku mudah jatuh cinta dengan segala yang aku dapat, dengan segala yang aku rasakan.
Kamulah pemicunya.
Terima kasih ya, terima kasih.
Kamu membuatku menjadi manusia lagi.
Terima kasih Bapa, Kau mengingatkan aku benar kalau aku manusia dengan mempertemukan aku dengan orang - orang yang mengajarkan aku arti bercinta.
Sukesi
Mungkin Mawar Berduri 5 November 2015
Tuan, hampir sebulan yang lalu Tuan menemukan aku menjadi manusia tanpa detak hati. Manusia yang mati dalam hidup, tenggelam oleh rasa yang semu. Meski sudah kutemukan perlahan detak itu, agar aku menjadi 'manusia'.
Namun Tuan, pertemuan denganmu adalah pertemuan dimana aku merasakan betul menjadi manusia berdetak. Lebih dari berdetak, berdegup buas bagai suara bass klub malam.
Kesadaranku akan menjadi manusia dihadapan Tuan, kini telah genap. Namun terkadang kesadaran itu menjadi semu, kala Tuan berbicara padaku tidak seperti berbincang dengan "manusia". Tuan melihatku sangat indah, Tuan banyak memuji aku, merayuku, seperti tuan berbicara dengan sebatang bunga mawar berduri.
Dengan rayuan Tuan, duri itu sama seperti perlahan hilang, membuat aku sebagai manusia setengah mawar ini takut, karena menjadi mudah untuk dipetik lalu layu dan lalu mati.
Setiap kelopak ini berteriak kepadamu,"Tolong Tuan! Rawatlah aku layaknya seseorang agar kita saling mencinta. Bukalah matamu Tuan! Mawar berduri yang Tuan lihat hanyalah kabut asmara semu, bila kau cabut aku, kemudian menghirup wangiku, lalu kau taruh aku dalam vas memori maka aku akan mati sampai disitu."
Jerit demi jerit kelopak kasih ini, semoga tidak hanya menjadi kecantikan mawar penghalang, agar rasa yang aku dan kamu hindari itu tidak masuk dengan cepat, tapi jadikan itu sebagai eternitas kenang yang dapat kau lampinkan dibadanmu agar pesan itu tetap bersamamu.
Aku hanyalah mawar berduri yang rapuh dihadapanmu, Tuan. Semua ini karena kau detakan kembali rasa dihati, dan apa yang mati kini telah bangkit.
Sungguh tolong sungguh,
Bantu aku merawat detak demi detak ini, agar ini tidak mati lagi, karena Tuan mengingatkan aku akan kehidupan sukma. Jangan lupa beri aku air dan pupuk, biarkan aku tetap disitu, dihalaman belakang rumahmu, memberi warna pada kebunmu.
Buatlah aku hidup seumur hidupku.
Kan ku buat kau bersemi - semi sepanjang hidupku. Biarkanlah aku memberikan eternitas kecil yang akan kita jalin sebagai 'Manusia'.
Sebagai mawar, akan kuberikan kamu selamanya. Sebagai tanda terima kasihku mengingatkan rasa Beliau pada aku.
Kita milik Beliau, aku juga milikmu, kamu bukan milik siapapunm kecuali Beliau.
Sukesi
Bersetubuh Dengan Matahari 4 November 2015
Iya! Aku ingin bersetubuh! Bersetubuh dengan Matahari! Merasakan setiap hangatnya dibibir - bibir kulit. Membuat pori - pori mungil ini basah, bergesek bersama rongga daging diantara bilah kulit yang halus.
Kala tak mampu kan kupalingkan wajahku dari paparanmu, Matahari, walau hanya sentuhan kecil yang menjari pada setiap sudut tubuhku, sudut terkecilku, sudut termerahku, atau mungkin bila kamu mampu, jarilah pada sudutku yang paling terbalut.
Aku yakin kamu takan mampu.
Belum sampai aku bilang, "Hey Matahari! Aku ingin kamu! Kuingin kamu membelah sebilah kulit ini dengan cahaya yang kamu punya, yang tak lebih dari sebatang keredupan hari, untuk lebur dalam rongga - rongga jalan kehidupan, menjadikan aku bercahaya diremang malam."
Namun oh namun Matahari
Akupun tak sanggup berkata demikian. Aku hanya mampu menulis apa yang menjadi ironi birahi.
Dusta akal pikir inikanku hapus dengan kasihku padamu.
Jasamu akan membuat setiap hariku terang, mencipta sore mendayu layu, kamupun menimang - nimang aku. Takan kupikir, takan kurasa bila kau merayu sayu.
Maafkan aku Matahari.
Sukesi
Mandi 31 Oktober 2015
Aku ingin mandi bersama kamu. Kamu yang dulu, sekarang, dan besok mengasihi aku. Aku ingin kamu membersihkan punggungku, menghiraukan auratku, menjadi satu denganku tanpa berbirahi bersamaku.
Aku mandi bersamamu, saling membersihkan yang tersulit dijangkau secara pribadi. Disitu kamu lupa kita telanjang, dan akupun juga. Bermain airlah aku dan kamu, tertawa terbahak - bahak tanpa bercumbu. Aku dan kamu, kita, bercumbu lewat sukma.
Kita melebur menjadi satu, bercinta, dan merasakan sukma kita menggeluti paham jiwa masing - masing. Namun raga hanya tertawa bebas merasakan dingin air dibawah rembulan. Raga kita memang tak berenang, sukma kita menampakan wujud orisinilnya.
Kamu lihat buah dadaku, leherku, pundakku, punggungku, wajahku, mataku, tatapanku, sukmaku, kamu lihat aku. Kamu lihat aku bahagia, kamu lihat aku suka, dan aku lihat kamu rasakan yang aku rasakan.
Aku ingin mandi bersamamu. Aku dan kamu lupa kalau kita telanjang, kita bersendagurau seperti Adam dan Hawa semasa sebelum menelan buah pengetahuan. Maka disitu hadir kita dan Beliau. Kita saling jujur, saling tulus, kita mejadi kita.
Aku mandi sama kamu.
Sukesi






No comments:
Post a Comment