Friday, October 9, 2015

Cerita Suka Di Beranda Sukesi

Bjong Ngopi Bjong Nologaten Jogja
Sukesi 21 November 2015

Aku cuma rindu tempat ini. Bjong lagi, bjong lagi. Terlalu banyak "rupa" yang memanjakan.
"Jangan terjebak pada rupa", rupa memang begitu memanjakan. Bahkan pukul segini saja canda tawa masih berkicau. Dua lewat tiga puluh menit dini hari. Apa ini yang disebut cinta yang tidak mengenal ruang dan waktu? Memang Kaekesi  belum tahu, lebih tepatnya belum paham akan kemurnian cinta. Cintaku akan tempat ini membuatku menyisihkan waktu lebih untuk bersama. Tadi memang teman - temanku ada disini. Ramai, sangat ramai. Semua para kakak itu yang mengajarkan aku banyak hal. Tapi kini mereka sudah pulang, menidurkan raga menimang - nimang jiwa.

Sekarang aku hanya bersama meja penuh gelas berisi teh dan kopi yang tertanggalkan, serta playlist aneh dari tempat ini yang cukup menghibur batin.
Sekarang aku hanya bersama kamu, Bjong.

Masih ada dua saudara lainnya, dua matahari yang manusia. Baru saja disini, di Bjong, dapatku pemahaman akan korelasi rasa dengan bisikan yang sejak aku mejadi kehidupanpun dan kini sudah cukup matang. Terima kasih ya tempat ini..

Sangat bisa tadiku tak mengikuti nafsuku untuk pergi kesini. namun kubiarkan rasaku membawaku ke ruang rindu.
Ngeteh Bjong Ngopi Bjong Nologaten Jogja
Sukesi 7 Oktober 2015

Ditemani segelas teh, Sukesi melepas rindu lewat tinta hangat, teh dingin, musik, serta cahaya lampu LED benderang, bersama tumpukan buku bahasa Jerman yang membosankan. Namun rasa itu, yang tak terlihat namun ada, kini telah bercumbu mesra dengan semen - semen dan aroma kopi yang menyanggah bilah bambu ini.
Suka, suka, suka! Warung ini, Ngopi Bjong ini, berteman dengan sukma. Meski tidak berkawan, rasanya puas. Melihat kursimu kini sudah ada yang baru, lega rasanya. Mendengar canda tawa dari pelangganmu, sangat puas sungguh. Padahal aku tak berkuasa.
Suasana diatara manusia ini mengingatkan Sukesi akan masa sekolah dasarnya, dimana semua hanya lelucon, gelak tawa, serta canda saja yang begitu sederhana namun saat ini dibilang 'tidak sesederhana itu'.
Si Anginpun berlarian kesana kemari tak ada yang hiraukan dinginnya, karena begitu hangat suasana yang terbangun. Disitu kawinlah persatuan energi dari partikel - partikel serta spektrum lampu kuning memecah rasa menjadi berjuta. Hingga pada akhirnya hanya bisa lumpuh diatas tempat duduk tanpa bersandar, menciptakan interaksi baik raga maupun jiwa.
Masa lalu, kini, dan masa yang akan datang semua bercinta dan lahirlah Aku, disitu.



BIBIR dan ARTI SEBUAH KECUPAN
“Antara Doa, Hasrat, dan Perpisahan”
 NN 13 April 2015

Bibir bisa dikatakan sebagai suatu bagian yang memiliki fungsi di luar fungsi komponen utama. Bibir tak lain adalah tepi, adalah pinggir, adalah batas, atau bagian yang paling terluar dari suatu unit tertentu. Suatu bagian terkecil atau terluar yang mampu untuk mandiri.
Contoh: bibir manusia, bibir pantai, bibir desa, bibir mata, dst.
Bibir pada manusia menjadi kesatuan dari mulut, bibir pada pantai menjadi kesatuan dari laut, bibir pada desa menjadi kesatuan dari kumpulan-rumah penduduk, bibir pada mata menjadi kesatuan dari jarak pandang manusia, dst.
Banyak orang telah merasa dekat, dan memahami kata “bibir” terlebih kata bibir pada manusia. Padahal bila kita mau untuk kembali mencermati, coba membuka dan merunutkan lapisan dimensi yang terkandung di dalamnya (baca: bibir). Maka pada lapisan pertama, kita akan menemukan bibir sebagai “kata”. Pada lapisan kedua kita akan menemukan bibir sebagai “nama”. Pada lapisan ketiga kita akan menemukan bibir sebagai “media”. Pada lapisan keempat kita akan menemukan bibir sebagai “tanda”. Dan beberapa lapisan lain setelahnya.
Akantetapi kali ini saya akan coba mengangkat “bibir” (pada manusia), pada lapisan dimensi ketiga (bibir sebagai media) dan keempat (bibir sebagai tanda).
            Pada lapisan dimensi ketiga bibir sebagai media. Melalui bibir, seorang manusia (individu) mampu mengekspresikan (mengungkapkan maksud, gagasan, menggambarkan perasaan) suatu hal tertentu yang tengah dialaminya, tanpa perlu memaparkannya secara langsung. Bahwa hanya dengan mengembangkan bibir (senyum), seorang bisa mengatakan bahwa “saya sedang merasa bahagia.” Begitu juga sebaliknya dengan melihat pergerakkan yang terjadi pada bibir seseorang, kita bisa mengenali maksud atau keadaan dari seorang tersebut; sebab “senyum” tidak hanya memiliki satu arti.
Bahwa dengan membubuhi warna (lipstik) pada bibir, seorang perempuan bisa terlihat lebih cantik, seksi, dan seterusnya. Melalui bibir, kita mampu menangkap banyak hal, mulai dari maksud, gagasan, bahkan sampai pada perasaan.

            Pada lapisan dimensi keempat bibir sebagai tanda. Bibir sebagai alamat atau sebagai wujud pernyataan akan sesuatu hal. Adapun sebuah ciuman bibir atau kecupan, tentu memiliki beberapa deret pengertian yang berbeda. Kali ini saya mencoba untuk menggunakan sudut pandang usia sebagai pembagi, dan mengkategorikan arti sebuah kecupan sebagai Doa, sebagai Hasrat, dan Perpisahan.


Cara Bagaimana Sukesi 9 Oktober 2015

Aku suka cara, cara bicara, cara bercerita, cara bernyanyi, cara memperlihatkan, cara bersendawa, cara, cara, cara
Aku suka cara bagaimana, aku suka cara yang bagaimana
  • Cara bagaimana membuat apa(pun) : tutorial 
  • Cara bagaimana melihat apa(pun) : perspektif 
  • Cara bagaimana mencium apa(pun) : hirup, cumbuan
Cara yang menjadi pola, lalu menjadi kebiasaan, dan dari kebiasaan itu dilakukan bersama para subjek maka akan menjadi kebudayaan.  Kesinambungan antar cara yang menjadi pola, kebiasaan, kebudayaan itu menjadi suatu karya murni yang tercipta karena kebutuhan. Baik itu cara yang diluar titik kenyamanan bahkan mungkin ganjil dan banal namun tengiang - iang dalam pikir, itulah yang dinamakan suksesnya pesan sublim.

Definisi 'cara'
Indonesian to Indonesian
noun
1. 1 jalan (aturan, sistem) melakukan (berbuat dsb) sesuatu: begitulah -- orang membuat tapai; bagaimana -- menulis huruf ini; 2 gaya; ragam (spt bentuk, corak): ia mempunyai baju -- Cina; ia pandai menari -- Sunda, Jawa, dan Bali; 3 adat kebiasaan; perbuatan (kelakuan) yg sudah menjadi kebiasaan: jika berada di negeri orang, jangan membawa -- mu sendiri; perkawinan -- Barat tidak sama dng -- kita; 4 bahasa; logat (dialek): ia menjawab -- Cina; -- Jakarta disebut “tampek”, -- Jawa “gabak”, dan -- Melayu “campak”; 5 jalan yg harus ditempuh: ia sedang memikirkan satu -- untuk membebaskan dirinya dr cengkeraman lawannya; 6 usaha; ikhtiar: hal itu adalah suatu -- untuk memupuk rasa nasionalisme; -- artikulasi Ling cara aliran udara disempitkan atau dilepaskan dl saluran suara, dipakai untuk mengklasifikasikan bunyi bahasa atas plosif (hambat) nasal, frikatif, afrikat, lateral, getar, sentuh, semivokal, dan vokal; -- penyajian usaha menyampaikan berita agar menarik;
se·ca·ra p 1 sebagai; selaku: hendaklah kamu bertindak ~ laki-laki; 2 menurut (tt adat, kebiasaan, dsb):perkawinan akan dilangsungkan ~ adat keraton; 3 dng cara; dng jalan: perselisihan itu akan diselesaikan ~ damai; ia diperlakukan ~ tidak adil; 4 dengan: hal itu diuraikan ~ ringkas; serangan itu dilakukan ~ besar-besaran
source: kbbi3
http://artikata.com/arti-323139-cara.html

Contohnya,
Cara meletakan gelas pada meja makan, dengan satu gerakan tangan, perbedaan sudut setiap perdetiknya dari titik ketinggian yang berbeda agar gesekan antar kaki gelas dan wajah meja tidak saling membentur dan menimbulkan distruksi suara maupun objeknya itu sendiri.
Cara menghisap kaki sigaret, dimana kaki sigaret bergesekan dengan bibir yang lembab lalu dari situ paru - paru yang mengambil alih untuk mengembangkan setiap bronkeolus untuk mengundang udara, nikotin, serta sari tembakau masuk bersamaan yang akhirnya memberikan rasa manis pada ujung bibir dan asap mantra sampai ke serebrum.

Tulis atau gambarlah definisi cara menurut kalian pada komentar bila memiliki persamaan ataupun kontra, terima kasih telah membaca!



Wednesday, September 30, 2015

Surat Untuk Si Garet

Tentang Doi,

Pada awalnya, doi bukan dan tidak masuk dalam pilihan, opsi - opsi, alternatif pengalih kesepian, dan pikiran beratku. Namun, pada akhirnya, ya, si Doi yang kupilih.

Aku memilih si Doi untuk berkenalan dengannya, lewat perantara seorang teman, yang kutitipi pesan untuk mengenalkannya padaku. Beberapa waktu setelah ibu, aku, dan Doi jadi makin akrab. Aku mulai tidak malu - malu untuk bertemu dengan dia, ketidak malu - maluan itu bahkan menjadi sebuah keberanian untuk kuungkapkan hubungan ini pada mama, secara sengaja yang terkesan tidak sengaja.

Namun, oh namun.

Bagiku yang beranggapan bahwa hidup ini dipenuhi paradoks dan kontraksi  itu jugalah yang terjadi padaku dalam hubungan ini.

Untuk diketahui:
Aku bernyanyi dengan suara tinggi dan jernih adalah asetku, sementara hubunganku dengan si Doi dapat menghancurkan hal yang aku miliki.

Paradoks, oh paradoks.

Setiap menyampaikan paradoks derita tak terungkap, tersimpan rapi namun terkoak, dan terasa sakitnya nanti, dan dalam derita lucunya dapat kutemukan kebahagiaan jika kau berhasil menemukan celahnya.

Mungkin jika dirangkum akan kita temukan kata kunci untuk melihat hal ini, yaitu perspektivitas. Waktu kini hubunganku dengan si Doi agak merenggang, karena sudah jarang dan berkurang frekuensi pertemuan kami, dan menjalin walau kata orang hubungan bersamanya dapat memberi dampak kurang menyenangkan untuk diriku, tapi aku tetap menghargai momen yang aku l
ewati dan aku ciptakan bersama si Doi.

Dengan Doi aku menghadapi kesepianku,
Dengan Doi aku berkutat dengan pikiranku sendiri,
Doi yang menemani dialog yang terjadi dalam pikiran dan hatiku, dialog antara diriku dan diriku.

Dan tulisan yang tengah kau baca inipun aku lahirkan dengan susunan DNA yang dihasilkan oleh buah - buah pikiranku, air pena snowman, kertas putih, dan kepulan asap hasil sinergi antara bibirku, nafasku, dan si Doi.

Yogyakarta, 16 Agustus 2015
Bjong

SEA

Jangan lupa mampir ke Blog milik penulis :


.......................................................



Ngopi Bjong Yogyakarta, 11 Agustus 2015

Yang tercinta Si Garet,

Temanku yang selalu dihakimi dan selalu ikhlas menerimanya.



Hai Garet, kamu temanku sejak tiga tahun silam, saat itu aku menemukanmu di ujung rak toilet rumahku. Aku menangis sendirian di ujung ruang mandi itu, lalu kulampiaskan segalanya padamu, padahal kamu belum mengenal aku hari itu.

Aku minta maaf Garet. Aku pikir semenjak hari itu aku jadi sering melacurimu dimana - mana. Aku tau kamu mendengar seluruh jeritan syahduku. Harus kuakui, kamu benar teman yang baik, kamu satu satunya teman yang menerima penyiksaan batin, dengan menyiksa tubuhmu berulang ulang. Seribu kali kamu mati, sejuta kali kamu kuhidupkan kembali.



Garet, berkat jasamu pula aku lebih mudah bersosial pada sesama pelangganmu. Kami menjadi akrab satu sama lain, saling menggilir dirimu, dan membakarmu bersama - sama. Ya, itulah takdirmu Ret. Maaf jika ini jahat, tapi kamu tidak berguna bila tidak menjadi pelampiasan batin.


Garet, tragedimu menjadi pelacur oral memang tidak ada jalan keluarnya. Tapi pikirkanlah keluargamu, bapak ibu tani serta anak - anaknya yang merawat kamu saat kamu masih tinggal di kebun, mereka makan apa bila kamu tidak bekerja. Mereka menumbuhkanmu dengan segenap rasa dan harapan akan lakunya dirimu dihari esok sehingga anak kandungnya dapat sekolah tinggi. Biarpun banyak orang mencaci maki dengan sejuta fakta yang ada, jangan biarkan mereka membuatmu musnah begitu saja.

Garet, kamu pasti lebih mengerti ini daripadaku. Kalau orang diluar sana, mereka manusia yang paling kedinginan, paling lemah hatinya, merasa hidupnya sudah terlalu kacau untuk dilanjutkan, mereka - mereka yang tersesat aku yakin pasti kebanyakan dari mereka adalah pelangganmu. Kamu mungkin tidak membantu secara verbal, finansial, atau apapun, namun kamu telah memberikan sedikit rasa manis pada ujung bibir mereka, dari semua pahit yang ada di dalam hidup mereka.

Garet, kamu bukan teman yang jahat. Kamu bahkan memeluk erat pelangganmu sampai terasa keseluruh organ-organ tubuh mereka dan kamu memeluk hangat hingga mereka ikut mati bersamamu.

Ditemani segelas kopi aku menulis surat ini padamu yang sedang menemaniku pula. Terima kasih banyak Garet, begitu intim hubungan yang kita miliki, kita bernafas salam satu hembusan yang sama, teratur dan lamban. Aku merasa kamu benar teman dekatku, Ret. Jangan pernah pikirkan apa yang dikatakan orang, tetap jadilah dirimu sendiri, aku yakin kamu dan keluarga yang membesarkanmu tidak ada maksut untuk berkehendak jahat. Pikirkanlah, memang apa yang sempurna?



Yang mencinta,

Sukesi