Bjong Ngopi Bjong Nologaten Jogja
Sukesi 21 November 2015
Aku cuma rindu tempat ini. Bjong lagi, bjong lagi. Terlalu banyak "rupa" yang memanjakan.
"Jangan terjebak pada rupa", rupa memang begitu memanjakan. Bahkan pukul segini saja canda tawa masih berkicau. Dua lewat tiga puluh menit dini hari. Apa ini yang disebut cinta yang tidak mengenal ruang dan waktu? Memang Kaekesi belum tahu, lebih tepatnya belum paham akan kemurnian cinta. Cintaku akan tempat ini membuatku menyisihkan waktu lebih untuk bersama. Tadi memang teman - temanku ada disini. Ramai, sangat ramai. Semua para kakak itu yang mengajarkan aku banyak hal. Tapi kini mereka sudah pulang, menidurkan raga menimang - nimang jiwa.
Sekarang aku hanya bersama meja penuh gelas berisi teh dan kopi yang tertanggalkan, serta playlist aneh dari tempat ini yang cukup menghibur batin.
Sekarang aku hanya bersama kamu, Bjong.
Masih ada dua saudara lainnya, dua matahari yang manusia. Baru saja disini, di Bjong, dapatku pemahaman akan korelasi rasa dengan bisikan yang sejak aku mejadi kehidupanpun dan kini sudah cukup matang. Terima kasih ya tempat ini..
Sangat bisa tadiku tak mengikuti nafsuku untuk pergi kesini. namun kubiarkan rasaku membawaku ke ruang rindu.
Ngeteh Bjong Ngopi Bjong Nologaten Jogja
Sukesi 7 Oktober 2015
Ditemani segelas teh, Sukesi melepas rindu lewat tinta hangat, teh dingin, musik, serta cahaya lampu LED benderang, bersama tumpukan buku bahasa Jerman yang membosankan. Namun rasa itu, yang tak terlihat namun ada, kini telah bercumbu mesra dengan semen - semen dan aroma kopi yang menyanggah bilah bambu ini.
Suka, suka, suka! Warung ini, Ngopi Bjong ini, berteman dengan sukma. Meski tidak berkawan, rasanya puas. Melihat kursimu kini sudah ada yang baru, lega rasanya. Mendengar canda tawa dari pelangganmu, sangat puas sungguh. Padahal aku tak berkuasa.
Suasana diatara manusia ini mengingatkan Sukesi akan masa sekolah dasarnya, dimana semua hanya lelucon, gelak tawa, serta canda saja yang begitu sederhana namun saat ini dibilang 'tidak sesederhana itu'.
Si Anginpun berlarian kesana kemari tak ada yang hiraukan dinginnya, karena begitu hangat suasana yang terbangun. Disitu kawinlah persatuan energi dari partikel - partikel serta spektrum lampu kuning memecah rasa menjadi berjuta. Hingga pada akhirnya hanya bisa lumpuh diatas tempat duduk tanpa bersandar, menciptakan interaksi baik raga maupun jiwa.
Masa lalu, kini, dan masa yang akan datang semua bercinta dan lahirlah Aku, disitu.
BIBIR dan ARTI SEBUAH KECUPAN
Sukesi 21 November 2015
Aku cuma rindu tempat ini. Bjong lagi, bjong lagi. Terlalu banyak "rupa" yang memanjakan.
"Jangan terjebak pada rupa", rupa memang begitu memanjakan. Bahkan pukul segini saja canda tawa masih berkicau. Dua lewat tiga puluh menit dini hari. Apa ini yang disebut cinta yang tidak mengenal ruang dan waktu? Memang Kaekesi belum tahu, lebih tepatnya belum paham akan kemurnian cinta. Cintaku akan tempat ini membuatku menyisihkan waktu lebih untuk bersama. Tadi memang teman - temanku ada disini. Ramai, sangat ramai. Semua para kakak itu yang mengajarkan aku banyak hal. Tapi kini mereka sudah pulang, menidurkan raga menimang - nimang jiwa.
Sekarang aku hanya bersama meja penuh gelas berisi teh dan kopi yang tertanggalkan, serta playlist aneh dari tempat ini yang cukup menghibur batin.
Sekarang aku hanya bersama kamu, Bjong.
Masih ada dua saudara lainnya, dua matahari yang manusia. Baru saja disini, di Bjong, dapatku pemahaman akan korelasi rasa dengan bisikan yang sejak aku mejadi kehidupanpun dan kini sudah cukup matang. Terima kasih ya tempat ini..
Sangat bisa tadiku tak mengikuti nafsuku untuk pergi kesini. namun kubiarkan rasaku membawaku ke ruang rindu.
Ngeteh Bjong Ngopi Bjong Nologaten Jogja
Sukesi 7 Oktober 2015
Ditemani segelas teh, Sukesi melepas rindu lewat tinta hangat, teh dingin, musik, serta cahaya lampu LED benderang, bersama tumpukan buku bahasa Jerman yang membosankan. Namun rasa itu, yang tak terlihat namun ada, kini telah bercumbu mesra dengan semen - semen dan aroma kopi yang menyanggah bilah bambu ini.
Suka, suka, suka! Warung ini, Ngopi Bjong ini, berteman dengan sukma. Meski tidak berkawan, rasanya puas. Melihat kursimu kini sudah ada yang baru, lega rasanya. Mendengar canda tawa dari pelangganmu, sangat puas sungguh. Padahal aku tak berkuasa.
Suasana diatara manusia ini mengingatkan Sukesi akan masa sekolah dasarnya, dimana semua hanya lelucon, gelak tawa, serta canda saja yang begitu sederhana namun saat ini dibilang 'tidak sesederhana itu'.
Si Anginpun berlarian kesana kemari tak ada yang hiraukan dinginnya, karena begitu hangat suasana yang terbangun. Disitu kawinlah persatuan energi dari partikel - partikel serta spektrum lampu kuning memecah rasa menjadi berjuta. Hingga pada akhirnya hanya bisa lumpuh diatas tempat duduk tanpa bersandar, menciptakan interaksi baik raga maupun jiwa.
Masa lalu, kini, dan masa yang akan datang semua bercinta dan lahirlah Aku, disitu.
BIBIR dan ARTI SEBUAH KECUPAN
“Antara
Doa, Hasrat, dan Perpisahan”
NN 13 April 2015
Bibir
bisa dikatakan sebagai suatu bagian yang memiliki fungsi di luar fungsi
komponen utama. Bibir tak lain adalah tepi, adalah pinggir, adalah batas, atau
bagian yang paling terluar dari suatu unit tertentu. Suatu bagian terkecil atau
terluar yang mampu untuk mandiri.
Contoh:
bibir manusia, bibir pantai, bibir desa, bibir mata, dst.
Bibir
pada manusia menjadi kesatuan dari mulut, bibir pada pantai menjadi kesatuan
dari laut, bibir pada desa menjadi kesatuan dari kumpulan-rumah penduduk, bibir
pada mata menjadi kesatuan dari jarak pandang manusia, dst.
Banyak
orang telah merasa dekat, dan memahami kata “bibir” terlebih kata bibir pada
manusia. Padahal bila kita mau untuk kembali mencermati, coba membuka dan
merunutkan lapisan dimensi yang terkandung di dalamnya (baca: bibir). Maka pada
lapisan pertama, kita akan menemukan bibir sebagai “kata”. Pada lapisan kedua
kita akan menemukan bibir sebagai “nama”. Pada lapisan ketiga kita akan
menemukan bibir sebagai “media”. Pada lapisan keempat kita akan menemukan bibir
sebagai “tanda”. Dan beberapa lapisan lain setelahnya.
Akantetapi
kali ini saya akan coba mengangkat “bibir” (pada manusia), pada lapisan dimensi
ketiga (bibir sebagai media) dan keempat (bibir sebagai tanda).
Pada lapisan dimensi ketiga bibir
sebagai media. Melalui bibir, seorang manusia (individu) mampu mengekspresikan
(mengungkapkan maksud, gagasan, menggambarkan perasaan) suatu hal tertentu yang
tengah dialaminya, tanpa perlu memaparkannya secara langsung. Bahwa hanya
dengan mengembangkan bibir (senyum), seorang bisa mengatakan bahwa “saya sedang
merasa bahagia.” Begitu juga sebaliknya dengan melihat pergerakkan yang terjadi
pada bibir seseorang, kita bisa mengenali maksud atau keadaan dari seorang
tersebut; sebab “senyum” tidak hanya memiliki satu arti.
Bahwa
dengan membubuhi warna (lipstik) pada bibir, seorang perempuan bisa terlihat
lebih cantik, seksi, dan seterusnya. Melalui bibir, kita mampu menangkap banyak
hal, mulai dari maksud, gagasan, bahkan sampai pada perasaan.
Pada lapisan dimensi keempat bibir
sebagai tanda. Bibir sebagai alamat atau sebagai wujud pernyataan akan sesuatu
hal. Adapun sebuah ciuman bibir atau kecupan, tentu memiliki beberapa deret
pengertian yang berbeda. Kali ini saya mencoba untuk menggunakan sudut pandang
usia sebagai pembagi, dan mengkategorikan arti sebuah kecupan sebagai Doa,
sebagai Hasrat, dan Perpisahan.
Aku suka cara, cara bicara, cara bercerita, cara bernyanyi, cara memperlihatkan, cara bersendawa, cara, cara, cara
Aku suka cara bagaimana, aku suka cara yang bagaimana
- Cara bagaimana membuat apa(pun) : tutorial
- Cara bagaimana melihat apa(pun) : perspektif
- Cara bagaimana mencium apa(pun) : hirup, cumbuan
Cara yang menjadi pola, lalu menjadi kebiasaan, dan dari kebiasaan itu dilakukan bersama para subjek maka akan menjadi kebudayaan. Kesinambungan antar cara yang menjadi pola, kebiasaan, kebudayaan itu menjadi suatu karya murni yang tercipta karena kebutuhan. Baik itu cara yang diluar titik kenyamanan bahkan mungkin ganjil dan banal namun tengiang - iang dalam pikir, itulah yang dinamakan suksesnya pesan sublim.
|



